Beberapa minggu yang lalu, dalam perkuliahan yang membahas termodinamika, kami dijelaskan tentang pengkondisian suhu kabin pada pesawat. Dosen kami saat itu, Bapak Ir. Kadarisman bercerita bahwa Beliau berkata bahwa pada ketinggian pesawat yang tinggi, pilot menginformasikan keadaan ambient air temperature yang sangat rendah. Beliau juga menambahkan, bahwa udara dingin dari luar pesawat (yang saking dinginnya) dipanaskan kembali, reheat, sebelum digunakan untuk mendinginkan suhu kabin pesawat.
Timbul pertanyaan saat itu, mengapa pada ketinggian tertentu suhu ambient air justru sangat rendah, bahkan bisa di bawah nol derajat Celcius. Padahal makin tinggi sebenarnya posisinya justru makin mendekat dengan matahari. Setelah itu, saya mulai berpikir dan teringat pada masa SMA dulu. Sepertinya saya pernah tahu jawabannya.
Kalau gak salah, dalam buku “Einstein Aja Gak Tahu” tulisan Robert L. Wolke, hal itu dapat terjadi karena radiasi dan konveksi panas bumi. Dibandingkan udara atmosfer, daratan bumi lebih cepat menerima energi panas yang dihantarkan lewat radiasi gelombang elektromagnetik yang dihasilkan matahari. Sehingga kalau dikenai radiasi panas, daratan menjadi panas terlebih dahulu baru disusul panasnya udara atmosfer. Panasnya udara atmosfer dapat terjadi lewat peristiwa konveksi panas dari lapisan yang terdekat dengan darat ke lapisan yang lebih tinggi di atasnya. Itulah alasannya mengapa makin tinggi ketinggian dari permukaan laut suhu udara justru makin rendah dan suhu udara di dekat permukaan laut lebih hangat.
Jadi gak jadi masalah kalo saya dikasih pertanyaan yang sama di lain kesempatan.
Filed under: Ilmu Pengetahuan












