Minal Aidin Wal Faizin

Setiap kali hari Idul Fitri, kita sering sekali mendengar atau melihat kalimat Minal aidin wal faizin dan halal bihalal. Kalimat pertama selalu kita dengar setiap kali kita menjabat tangan saudara atau tetangga saat Lebaran. Atau kalimat itu terlihat di kartu-kartu Lebaran, iklan, papan pengumuman dan lain-lain. Namun yang jadi pertanyaan apakah kita sudah mengerti arti kalimat-kalimat itu.

Pagi tanggal 30 September, saya sudah mendapat ucapan selamat Lebaran dari beberapa teman melalui pesan singkat sms. Sepertinya banyak juga teman yang merayakan Idul Fitri di hari itu. Saya dan sekeluarga merayakan lebaran esok harinya tanggal 1 Oktober seperti hasil sidang isbat Pemerintah.

Di sms itu juga ditemui kalimat minal aidin wal faizin. Kalimat yang sangat lazim digunakan untuk momen Lebaran bahkan sejak kecil. Bahkan waktu kecil saya selalu mengira minal aidin wal faizin artinya mohon maaf lahir batin karena kedua kalimat itu selalu disebutkan berdampingan. Begitu pula saat menerima undangan Halal bihalal. Frasa atau kumpulan kata itu menunjuk suatu acara yang menghimpun orang serta khusus diadakan di Lebaran. Minal aidin wal faizin dan halal bihalal jelas berasal dari bahasa Arab. Namun ternyata kedua himpunan kata itu tidak dikenal dalam budaya Arab.

Saat Idul Fitri, orang Arab biasa berucap: Kullu aamin wa antum bikhoir (semoga anda dalam keadaan baik sepanjang tahun) atau Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima -amal- kami dan anda)

Sedang kata-kata Minal aidin wal faizin dan Halal bihalal sebenarnya orang Indonesia yang lebih tahu maksud dan asal. Sebenarnya.. Karena mungkin saja kita agak kesulitan ketika mencari artinya dari bahasa Arab. Terjemahan Minal Aidin wal Faizin, dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Mungkin kurang lebih maksudnya, “Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali ke jalan Allah dan termasuk orang-orang yang menang melawan hawa nafsu atau meraih surga.

Yang cukup membingungkan adalah asal penggunaan Halal bihalal. Dari terjemahannya halal dengan halal, tetapi mengapa terjemahan kata seperti itu digunakan sebagai penyebutan acara pertemuan banyak orang setelah hari Idul Fitri. Bingung…

Bagaimana kita harus bisa lebih peduli dengan sekitar termasuk dengan hal bahasa. Berucap tapi tak tahu maknanya. Sama seperti berkata tanpa ilmu. Semoga Semuanya itu tidak mengurangi hikmah Idul Fitri. Wallahu alam.

= )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: