Praktikum Las Karbit

Penasaran dengan dunia pengelasan. Lebih dari sekedar itu. Ini salah satu praktikum proses manufaktur. Hari ini, aku dan beberapa kawanku sekelompok mengerjakan las di salah satu sudut workshop di kampus. Siap dengan katelpak dan segala kelengkapannya, kami lakukan persiapan dengan panduan petugas lab. Kami pun mulai mengelas.

Ternyata las karbit susah. Teknik las yang biasa kita temui di beberapa sudut jalan ini kami gunakan untuk menyatukan dua plat tipis dengan panjang kira-kira sepuluh sentimeter dan lebar sekitar dua sentimeter. Dua logam tersebut diletakkan pada sebuah landasan logam, berjajar memanjang, sebelum dilas di antara keduanya.

Las ini adalah contoh pengelasan menggunakan gas. Bahan bakar gas dengan oksigen dibakar sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat mencairkan filler dan base metal. Pada praktikum ini digunakan bahan bakar dari gas asetilen. Tidak perlu listrik dan apinya cukup didapat dari pematik api.

Langkahnya, pertama buka saluran keluar gas asetilen. Patik api pada ujung alat las hingga api terkobar. Setelah itu buka saluran gas oksigen dan atur nyala api sesuai kebutuhan pengelasan. Tetapi sebagai pemula, kami menggunakan nyala api netral untuk menyatukan dua plat logam baja tersebut. Karena panas dan silaunya proses, aku sarankan menggunakan kaca mata hitam agar tidak merusak mata.

Saat itu, ternyata tidak hanya kelompokku yang kebagian mengerjakan las karbit tetapi juga ada satu kelompok lagi. Banyak kejadian yang dialami kedua kelompok ini, mulai dari base metal yang bolong sampai ledakan pada benda kerja saat pengelasan. Alhamdulillah, bukan tabung oksigen atau bahan bakarnya yang meledak. Kejadian ledakan itu berulang setidaknya empat kali. Dasar…

Ada satu personil di kelompokku yang cukup ahli dan pernah menglas sebelumnya, namanya Syaiful. Dia pernah mengenyam pendidikan STM dan mengaku pernah “megang” las di kelas satu. Dan hampir semua pengelasan dibantu olehnya dan hasilnya cukup baik. Ya, sepertinya praktikum ini jadi miliknya saja. (Tapi tidak, ini miliki juga, =) )

Sedang hasil las-lasanku setengah mulus setengah kacau. Setelah mencoba tiga kali, cukup terbiasa tangan ini memegang alat las itu. Jadinya, tidak terlalu buruk. Memang butuh jam terbang yang banyak untuk mendapatkan hasil las-lasan yang optimal (Kayak pilot aja… Jam Terbang..).

BACA JUGA LAS KARBIT (BAGIAN 1)

4 Responses

  1. wah dik ardi dah pinter nge-las nih..

    Eh.. rumah (masa depan) ane sdang di perbaiki lho…
    Ayo mampir..!! Bisa mraktekan ngelass pager rumah..
    hehe..peace..!!!🙂

  2. Sip…..

    Blog iki dadi dokumentasi kuliah.
    Mangstab.

  3. @ MAs FaiSaL
    Hiiiyaaaa….
    Nanti pagarnya bolong-bolong….
    La wong cuma nyatuin dua plat tipis aja hasilnya gak karuan….
    Tapi boleh juga…. Sekalian silaturahim…. (he.. he.. becanda)

    @MaS AguNg
    Ya… Kuliah di Mesin tuh banyak tantangannya dan hal-hal yang menarik… Bisa sekalian berbagi pengalaman n “penderitaan” (lo maksude)…
    Kapan-kapan mampir ke kampusku ta….

  4. kelihatan menarik sekali, rasanya campur aduk,
    minggu ini saya magang mas, d plant untuk proses produksi valve engine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: