Reformasi Umar Bin Abdul Aziz yang Menyejarah

Beberapa ulama menyebutnya sebagai khalafaur rasyidin ke lima, pembaharu, mujadid abad pertama hijriah. Umar bin Abdul Aziz tampil sebagai pemimpin dalam kekhalifahan di bawah dinasti Bani Umayyah. Dinasti ini memasuki usia ke enam puluh, pada penghujung abad pertama hijriah sebelum pemerintahan Umar, dengan simbol kepemimpinan dinasti yang korup, mewah dan boros. Lalu bagaimana Umar melakukan reformasi dalam masa kepemimpinannya.

Umar bin Abdul Aziz sebelum Kekhalifahannya

Umar bin Abdul Aziz pada dasarnya adalah seorang ulama yang juga pernah belajar kepada beberapa ulama-ulama Madinah. Namun gaya hidup mewah dan boros keluarganya tidak bisa terlepas darinya. Umar sendiri bagian dari dinasti itu. Hingga sebelum dipilihnya, Umar masih merasakan tidak cukup percaya diri untuk menjadi pemimpin karena gaya hidup keluarganya tersebut.

Keluarga kerajaan memintanya menggantikan kedudukan Abdul Malik bin Marwan sebagai pemimpin setelah beliau wafat. Saat itu, Umar dianggap sebagai tokoh yang paling layak untuk kedudukan ini.

Ketika Umar menerima jabatan ini, ia berkata pada seorang ulama di sebelahnya. “Aku benar-benar takut neraka”. Ya, dari sinilah kisah kepemimpinan yang gemilang dimulai. Saat usia 37 tahun menjadi pemimpin dan selama dua tahun, ia berhasil melakukan reformasi total di kekhalifahannya. Keadilan ditegakkan dan kemakmuran diraih.

Langkah Perubahan Pertama

Bagi Umar, keterpurukan dan kesenjangan selama ini adalah akibat kepemimpinan dinastinya, Bani Umayyah, terdahulu. Sedang Umar pun menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga istana yang gaya hidupnya bermewah-mewahan, bagian dari masa lalu yang turut menyebabkan keadaan negara kala itu. Maka ia berpikir bahwa perubahan dan perbaikan dalam sebuah negara yang luas tidak dapat dilakukan kecuali kalau ia berani melakukan perubahan pada dirinya, lalu kepada keluarga intinya lalu keluarga istana yang lebih besar. Dengan kebulatan tekad itulah, ia melakukan reformasi yang paling sukses dalam sejarah.

Usai dilantik sebagai pemimpin, Umar segera mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang dan barang, ke kas negara. Itu termasuk segala sandang pakaian yang mewah. Ia menolak tinggal di istana, menetap di rumahnya. Pola hidupnya berubah total dari seorang yang mencintai dunia menjadi seorang yang zuhud, yang hanya mencari kehidupan abadi di akherat.

Setelah melakukan perubahan pada dirinya, ia menuju keluarga intinya. Ia memberikan pilihan pada isterinya, “Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai.” Tapi isterinya, Fatimah binti Abdul Malik, memilih setia mengikuti suaminya. Suatu saat, anak-anaknya protes karena mereka tidaklah memakan makanan yang lezat lagi banyak setelah ayahnya menjadi khalifah. Lalu Umar berkata pada anak-anaknya, “Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama”.

Setelah dengan anak dan isterinya, Umar mengajak para anggota keluarga di istana. Ia memerintahkan penjualan barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan hasil penjualannya ke kas negara. Ia juga memerintahkan pencabutan fasilitas yang mewah, yang selama ini diberikan pada keluarga istana. Hal ini mengundang protes dari anggota keluarga istana untuk mengembalikan semua fasilitas mewah tersebut. Namun ketegaran dan keteguhan Umar mengalahkan upaya keluarga istana tersebut.

Hingga suatu saat bibi beliau mendatangi rumah Umar dengan niat agar merayu Umar melanjutkan kebijakannya. Mengetahui hal itu, Umar mengambil sebuah uang logam dan sepotong daging. Ia membakar uang tersebut lalu menaruhnya di atas daging. Lalu ditunjukkannya pada sang bibi, seraya berkata, “Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memuaskan keserakahan kalian? Berhentilah menekan atau merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan reformasi ini.

Kemudian langkah-langkah awal Umar ini telah meyakinkan masyarakat akan kesungguhan khalifah Umar melakukan reformasi dalam kehidupan bernegara.

Langkah Perubahan Kedua

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Umar adalah penghematan dalam penyelenggaraan negara. Langkah ini cukup mudah dikarenakan pemerintahan sudah menunjukkan kredibilitasnya di depan publik. Namun dampaknya sangat luas dalam menyelesaikan krisis ekonomi saat itu.

Pemborosan pada penyelenggaraan negara disebabkan birokrasi yang panjang dan administrasi dan sistem kenegaraan yang rumit. Dan juga gaya hidup mewah yang sering diperlihatkan oleh para pejabat pemerintah. Membudaya hidup sederhana, membersihkan tubuh pemerintah dari pejabat yang korup, menyederhanakan struktur kenegaraan, memangkas birokrasi yang rumit dan panjang. Dengan cara itu, Umar menjadikan negara berjalan sangat efektif dan efisien.

Langkah Perubahan Ketiga

Redistribusi kekayaan negara. Sebenarnya dengan melakukan langkah perubahan kedua, Umar telah melakukan penghematan belanja negara, dan pada waktu yang sama, juga turut menggairahkan semangat kewirausahaan di tengah masyarakat. Hal ini karena dukungan birokrasi yang membaik dan tidak berbelit. Dengan demikian, Umar dapat meningkatkan sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat dan pajak.

Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya demand atau permintaan dari masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya suplai. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tapi juga dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat makro.

Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa “negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda.”

Wallahu’alam bishshawab.

3 Responses

  1. jazakallah infonya..!!!

  2. Sejarah Umar Bin Abdul Aziz memang luar biasa. Agak sotoy dikit, saya pingin ngasih komentar dari segi penulisan.

    Istilah lain dari Ulama adalah Ilmuwan. Ulama adalah jamak dari ‘Alim. ‘Alim artinya orang berilmu. Ilmuwan, artinya juga orang berilmu.

    Terkadang, saya suka menyebut para Ulama sebagai sejarawan. Contohnya adalah dalam kasus ini😀 .

    ~udah ah, ngomongnya makin OOT m(_ _)m

  3. @Icalmahdi
    Itulah Khalifah Umar bin Abdul Aziz

    @agungfirmansyah
    terusno, mas!!!
    he..he..he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: