Umar dan Penghuni Rumah Tua

Inilah kisah dari satu fragmen kehidupan seorang khalifah, Umar bin Khaththab. Mungkin banyak di antara kita yang sudah mengetahuinya. Namun alangkah baiknya, jika kita mengingatnya kembali sebagai rujukan, tentang betapa beratnya memikul amanah sebagai seorang pemimpin.

Dikisahkan setiap malam, Khalifah Umar secara rutin keluar masuk desa, mencari masukan tentang apa yang semestinya ia lakukan untuk kesejahteraan rakyatnya. Suatu hari, tatkala ia melaksanakan tugas rutinnya itu, terdengar tangis balita yang berasal dari sebuah rumah tua yang sudah reot. Umar mendekat dan memasuki rumah itu. Dilihatnya seorang ibu menanak sesuatu, sementara si balita terus-menerus menangis.

Terjadilah dialog antara tamu dengan si tuan rumah.

Mengapa ia menangis?” tanya Umar pada sang ibu.

Ia kelaparan.

Lalu, apa yang ibu masak itu?

Kami menanak batu,” jawab sang ibu tanpa ragu.

Umar terdiam. Tapi, si ibu yang tak tahu bahwa dihadapannya itu adalah khalifah negeri, justru dengan ringan mengkritik kepemimpinan Umar bin Khaththab.

Pemimpin yang tak tahu rakyatnya kelaparan,” begitu kata si ibu itu dengan sorot mata menahan marah.

Kontan saja, Umar terperangah dibuatnya. Ia langsung pamit. Dalam perjalanan pulang, Umar tak bisa membendung air matanya, tak tega melihat rakyatnya sedang dilanda kelaparan. Umar langsung menuju tempat penyimpanan gandum, diambilnya satu karung dan dipikulnya menuju rumah si ibu tadi. Saat itu, salah seorang staf Umar menyaksikan pimpinannya yang bersusah payah itu, langsung saja menawarkan bantuannya. Tapi Umar justru menolaknya.

Apakah kau sanggup memikul dosa-dosaku?” tanya Umar sambil terus menuju ke tempat tujuan.

Itulah sepenggal kisah tentang Umar bin Khaththab ketika menjabat sebagai khalifah. Begitu beratnya tugas seorang pemimpin, meski Umar sudah optimal, masih juga dicaci maki oleh penduduknya. Bahkan, di akhir hayatnya, Umar yang dikenal cerdas, tegas, bijaksana dan berwibawa itu pun harus syahid di tangan seorang pengkhianat. Tragis. Itulah resiko seorang pemimpin. Bagaimana pun bijaksananya seorang pemimpin, masih ada orang-orang yang tak menyukainya.

(Sebagian dari pengantar ”Al-Washaya Al-Khalidah” terjemah Bahasa Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: