Hapus Academic dan Power Harassment di Kampus!

Kekerasan fisik dan psikis tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Apalagi jika kekerasan itu terjadi di lingkungan kampus! Lingkungan tempat berkumpulnya kelompok dengan kapasitas intelektual yang memadai.Sebuah masyarakat yang bisa disebut sebagai miniatur dari sebuah knowledge dan civil society. Masyarakat yang seharusnya menjadikan knowledge sebagai pijakan dari setiap aktifitasnya.Masyarakat yang tahu betul akan hak dan kewajibannya.Knowledge yang memiliki makna luas, termasuk didalamnya adalah knowledge yang berhubungan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat dan agama yang dianutnya. Tidak terbatas hanya pada pengetahuan tentang keprofesian dan kompetensinya.

Marak-dan masih membudayanya kekerasan yang terjadi di kampus, memunculkan satu keprihatinan tersendiri pada diri saya sebagai seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Keprihatinan ini saya tuangkan dalam sebuah opini sebagai bentuk ketidaksetujuan atau perlawanan yang beradab (civilized) terhadap perilaku “premanisme” dan budaya feodal yang masih dipertahankan oleh senior terhadap juniornya pada event ospek (orientasi pengenalan kampus).Lebih lagi pada event ospek sering dibumbui dengan aksi kekerasan oleh senior/mahasiswa lama(MALA) kepada junior/mahasiwa baru(MABA).Termasuk pada event ospek/POROS Mesin 2008 di lingkungan Teknik Mesin ITS beberapa waktu yang lalu, dan sempat diberitakan di Jawapos (Kamis,27/11/2008).

Sejauh pengamatan saya, budaya feodal dan otoriter masih dijadikan cara dalam ospek MABA. Hubungan MALA dan MABA dibuat seperti hubungan antara ndoro dengan kacungnya, juragan dengan pelayannya, tuan dengan budaknya, dan bentuk-bentuk feodalisme atau otoriterianisme lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan semangat egaliter yang ingin kita bangun dan tumbuhkembangkan di lingkungan kampus. Egaliterianisme dalam bingkai norma dan agama.

Hukuman dalam bentuk skorsing yang selama ini dijatuhkan oleh pihak institusi kepada MALA yang telah melakukan kekerasan fisik terhadap MABA terbukti belum mampu membuat MALA jera untuk tidak mengulangi kembali aksinya. Aksi yang sama berulang dari peridode ke periode. Sementara kekerasan psikis yang juga sering dilakukan oleh MALA pada MABA samasekali tidak tersentuh dan lepas dari perhatian dosen pembina.Bahkan institusi kampus juga tidak melarang, apalagi memberikan sanksi pada kekerasan psikis yang selama ini dilakukan oleh MALA pada event ospek. Mungkin saja kekerasan psikis dianggap sebagai hal yang biasa dan tidak berbahaya. Padahal, yang namanya kekerasan,baik fisik maupun psikis tidak bisa dibenarkan. Umpatan/bentakan/intimidasi/killer statement yang selama ini dianggap biasa dan mentradisi di event ospek bisa berdampak pada cacat psikologis.Dan perlu kita tahu bahwa kekerasan psikis di lingkungan kampus seharusnya bisa dikatagorikan kedalam academic atau power harassment.

Academic atau power harassment di kampus
Istilah academic atau power harassment ini untuk pertamakalinya saya dengar ketika saya study di Jepang. Kira-kira mulai 3-5 tahun yang lalu, kampanye anti academic dan power harassment marak dilakukan di lingkungan kampus diseluruh Jepang. Negara yang kita tahu sejak lama menjunjung tinggi senioritas itu kini mencoba mengikis pendekatan hirarkis dan otoriter di lingkungan kampus dengan diterapkanya undang-undang anti academic dan power harassment. Hubungan antara dosen-mahasiswa atau senior-junior didorong kearah yang lebih egaliter dan demokratis. Walau belum berjalan dengan baik, tapi semangatnya patut kita acungi jempol dan layak untuk dicontoh.

Dari sumber Kyoto Gaikokugo Daigaku atau dalam bahas kita, Universitas Bahasa Asing Kyoto, didalam dunia pendidikan dan penelitian, seorang dosen/staf pengajar/senior dianggap melakukan academic harassment atau power harassment ketika pada aktifitas atau kata-katanya terdapat indikasi penyalahgunaan kekuasaan, perlakuan yang menyerang pihak lain, kurang menghormati kepribadian atau prifasi seseorang. Atau ketika hak seseorang untuk belajar, untuk melakukan penelitian atau bekerja dilanggar. Hal ini bukan saja karena aktifitas tersebut akan berpengaruh pada kondisi psikologis, tapi juga mungkin akan berdampak negatif pada masa depan korban. Sehingga saat ini di Jepang, jangankan mahasiwa senior, seorang professor atau dosen saja harus berhati-hati dalam memperlakukan mahasiswanya. Mahasiswa senior di Jepang tidak lagi bisa seenak udele memanfaatkan posisinya atau senioritasnya untuk menekan juniornya dan mengeluarkan kata2 yg kurang pantas di telinga, dengan alasan apapun, termasuk alasan ospek/pengkaderan! Apalagi sampai melakukan kekerasan fisik,seperti yang sering dilakukan oleh senior kepada junior/MABA pada event ospek/pengkaderan di kampus-kampus di tanah air!

Academic atau power harassment sudah tidak bisa lagi ditolerir terjadi di lingkungan kampus di tanah air.
Kalau masih terjadi, harus ada konsekuensi hukum yang keras bagi pelakunya. Kalau perlu, institusi perguruan tinggi harus berani mengambil sikap tegas, meniadakan event ospek/pengkaderan bila masih ada indikasi kekerasan fisik dan psikis.

Merubah tradisi dan adab dalam bersociety di kampus
Tradisi kekerasan/feodal/otoriter yang sudah lama berjalan,khususnya pada proses ospek MABA harus dirubah dan diganti dengan ospek simpatik, yang mengedepankan kelemah-lembutan dan kasih sayang, serta niatan tulus untuk melayani dan membantu MABA sebagai tamu dan calon adik kita di lingkungan kampus. Segala bentuk interaksi di lingkungan kampus harus berpijak pada knowledge dalam arti luas, dan interaksi harus dilakukan dengan cara-cara yang civilized, yang mencerminkan kapasitas intelektual masyarakatnya.

Niatan dan tujuan mulia dari ospek bagi MABA seharusnya dilakukan dengan cara yang baik pula.Tidak dikotori dengan aksi kekerasan psikis, apalagi dikotori dengan aksi kekerasan fisik. Karena kekerasan tidak akan menghasilkan kebaikan, tapi akan melahirkan kekerasan yang baru. Dan hanya akan merusak dan menggagalkan tujuan mulia dari event tersebut.

Didalam sebuah masyarakat yang egaliter, tidak sepantasnya MABA diposisikan sebagai kacung/pelayan/budak. Bahkan pada event ospek seklipun.MALA dan MABA harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. MABA harus diposisikan sebagai partner dan ikut dilibatkan dalam penyusunan format ospek agar bisa memuaskan semua pihak.

Sebelum saya kembali ke tanah air, ada sebuah pesan singkat dari seorang teman yang masih saya ingat sampai sekarang:”Perumpamaan kata-kata atau kalimat yang baik seperti pohon yang baik,akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu.Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk,yang telah tercabut akarnya, sehingga tidak dapat tegak berdiri sedikitpun”. Dan, baru saya tahu ternyata pesan singkat tersebut dikutipkan teman saya dari ayat 24 -26 dalam surat Ibrahim. Selama kita bisa sampaikan segala sesuatunya dengan kata-kata yang baik, kenapa harus memilih kata-kata yang kurang baik,mas?

*) Dr.Harus Laksana Guntur,M.Eng adalah dosen Teknik Mesin ITS, alumni Jepang.

http://haruslg.wordpress.com/2008/12/07/hapus-academic-dan-power-harassment-di-kampus/

http://mesinits.wordpress.com/2008/12/07/hapus-academic-dan-power-harassment-di-kampus/#more-55

2 Responses

  1. ….Hubungan antara dosen-mahasiswa atau senior-junior didorong kearah yang lebih egaliter dan demokratis….

    STAN banget tuh..
    =D

  2. Pendidikan yg paling strategis, optimal, menentukan dan multiple effect..>>

    Pendidikan Keluarga.>!!!

    hayo.. dah siap belum ..??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: