Hadits Seputar Gerhana

Berikut beberapa hadits seputar gerhana…..

Shalat Gerhana

Hadis riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha., ia berkata:

Pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. pernah terjadi gerhana matahari. Saat itu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. melakukan shalat gerhana, beliau berdiri sangat lama dan rukuk juga sangat lama, lalu mengangkat kepala dan berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama. Kemudian beliau rukuk lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama. Selanjutnya beliau sujud. Kemudian berdiri lama, namun tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, namun tidak selama rukuk pertama, mengangkat kepala, lalu berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama, lalu sujud dan selesai. Ketika shalat usai matahari sudah nampak sempurna kembali. Beliau berkhutbah di hadapan kaum muslimin, memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan bersabda: Sesungguhnya matahari dan rembulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, jika kalian melihat keduanya gerhana, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah! Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan. (Shahih Muslim No.1499)

Hadis riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha., ia berkata:

Pernah terjadi gerhana matahari dimasa Rasulullah shalallahu alaihi wassalammasih hidup, maka Rasulullahshalallahu alaihi wassalampergi ke masjid, lalu para sahabat berbaris dibelakangnya, kemudian beliau bertakbir, lalu Rasulullahshalallahu alaihi wassalammembaca bacaan yang panjang, kemudian beliau bertakbir lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengucap “SAMI ALLAHULIMAN HAMIDAH”, kemudian berdiri, TIDAK SUJUD, kemudian membaca bacaan yang panjang, tapi kurang dari yang pertama, kemudian beliau bertakbir, lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang, tapi kurang dari ruku’ pertama, kemudian mengucap “SAMI ALLAHULIMAN HAMIDAH RABBANA LAKAL HAMDU”, kemudian beliau sujud, kemudian beliau berbuat seperti itu pula pada raka’at kedua, hingga sempurna empat ruku’ dan empat sujud, dan gerhana mataharipun selesai sebelum beliau selesai (dari shalat tersebut). (Muttafaq ‘alaih, Fathul Bari’ II: 533 no:1046, Muslim II: 619 no:3 dan an-Nasa’i III:130, A’unul Ma’budIV: 46 no: 1168 )

Dalam riwayat yang cukup panjang dalam himpunan hadits Syeikh M. Nashirudin Albani,

Hadis riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha., ia berkata:

Terjadi gerhana matahari pada masa hidup Rasulullah. Beliau keluar ke masjid lalu menyuruh seseorang menyerukan, Ash-Shalaatu Jaami’ah, kemudian beliau maju. Lalu, orang-orang berbaris di belakang beliau. (Dan dalam riwayat lain dari Aisyah: seorang wanita Yahudi datang mengajukan pertanyaan kepadanya seraya berkata, ‘Mudah-mudahan melindungimu dari azab kubur.’ Kemudian Aisyah bertanya kepada Rasulullah, ‘Apakah orang-orang disiksa di dalam kuburnya?’ Rasulullah menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah dari hal itu.’ Kemudian pada suatu pagi Rasulullah naik kendaraan, lalu terjadi gerhana matahari. Kemudian beliau kembali pada waktu dluha(yakni, dari mengantar jenazah. Dan yang menyebabkan beliau naik kendaraan itu ialah kematian putra beliau Ibrahim.) Maka, Rasulullah berjalan di antara dua punggung batu,(Yakni, di rumah-rumah istri beliau saw., dan rumah-rumah itu menempel di masjid). lalu beliau berdiri menunaikan shalat. Kemudian Rasulullah membaca bacaan (dalam satu riwayat: surat yang panjang yang beliau baca dengan keras. Beliau bertakbir, lalu ruku dengan ruku yang panjang. Setelah itu mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, ‘Sami’allaahu Liman Hamidah.’ Lantas berdiri lagi yang lebih pendek daripada berdirinya yang pertama dan tidak sujud. Beliau membaca ayat-ayat yang panjang tetapi lebih pendek daripada bacaannya yang pertama, (dan dalam satu riwayat: kemudian beliau membuka bacaannya dengan surah lain). Kemudian bertakbir dan ruku yang panjang, tetapi lebih pendek dari ruku yang pertama, lalu mengucapkan, ‘Sami’allaahu Liman Hamidah, Rabbana wa Lakal Hamdu.’ Lalu, sujud dengan sujud yang panjang (dua kali sujud. Kemudian pada rakat yang terakhir beliau melakukan seperti apa yang beliau lakukan dalam rakaat sebelumnya. Dengan begitu, beliau telah menyempurnakan empat kali ruku dalam dua rakaat. Juga telah empat kali sujud (dalam satu riwayat: dengan dua kali sujud pada rakaat yang pertama, sedang sujud yang pertama lebih panjang). Kemudian matahari telah jelas sebelum beliau pergi, lalu beliau salam. Kemudian beliau berdiri, lalu berkhotbah kepada orang banyak dan memuji Allah dengan pujian yang layak untuk-Nya. Kemudian bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Allah yang Dia tampakkan kepada hamba-hambaNya. Keduanya tidak menjadi gerhana karena meninggalnya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka lakukanlah shalat.’ (Dalam satu riwayat: maka, berdoalah kepada Allah, agungkanlah Dia, dan shalatlah [hingga tersingkap matahari/bulan kepadamu] dan bersedekahlah. Sesungguhnya saya melihat di tempat berdiriku ini segala sesuatu yang dijanjikan kepadaku, hingga saya lihat diri saya ingin memetik setandan kurma dari surga ketika kamu melihat aku maju, dan kulihat neraka Jahannam sebagiannya meruntuhkan sebagian yang lain ketika kamu lihat aku mundur. Aku lihat di sana Amr bin Luhaiy [menyeret ususnya, dan dialah yang (dan dalam satu riwayat: orang pertama yang) menelantarkan semua yang telantar]. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai umat Muhammad! Demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah, melebihi kecemburuan seorang laki-laki atau wanita yang berzina. Wahai umat Muhammad! Demi Allah, seandainya kamu mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.’ Kemudian beliau memerintahkan mereka berlindung dari azab kubur. (Shahih Bukhari)

Hadis riwayat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu., ia berkata:

Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana), lalu kami masuk. Kemudian beliau shalat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya bukan gerhana karena meninggalnya seseorang. Akan tetapi, Allah ta’ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Oleh karena itu, apabila kamu melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah sehingga terbuka apa (gerhana) yang terjadi padamu.’ (Hal itu karena putra Nabi saw. yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian terjadi gerhana. Lalu, orang-orang berkomentar bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim itu. Hal ini lantas disanggah Rasulullah dengan sabda beliau itu.) (Shahih Bukhari)

Hadis riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.:

Dari Nabi shalallahu alaihi wassalam. bahwa beliau melaksanakan shalat gerhana dua rakaat dengan empat kali rukuk, dan empat kali sujud dalan satu rakaat. (Shahih Muslim No.1503)

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu., ia berkata:

Tatkala gerhana matahari terjadi di masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. (manusia) diseru dengan seruan: “as-shalaatu jaami`atan” (marilah shalat berjamaah). Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. melakukan dua kali rukuk dalam satu rakaat. Kemudian berdiri dan melakukan dua kali rukuk dalam satu rakaat (yang terakhir). Kemudian matahari nampak kembali. (Shahih Muslim No.1515)

Hadis riwayat Abu Mas ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu., ia berkata:

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Dengan kedua ayat tersebut Allah membuat rasa takut kepada hamba-hamba-Nya. Keduanya tidaklah terjadi gerhana karena kematian seorang manusia. Karena itu bila kalian melihatnya, shalat dan berdoalah kepada Allah sampai hilang yang menakutkan kalian. (Shahih Muslim No.1516)

Hadis riwayat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu., ia berkata:

Tatkala terjadi gerhana matahari di masa Nabi shalallahu alaihi wassalam., beliau bangkit terkejut, takut terjadi kiamat sampai beliau menuju mesjid. Beliau melakukan shalat dengan rukuk dan sujud yang lama sekali. Tidak pernah aku melihatnya melakukan shalat seperti itu. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kebesaran yang dikirimkan Allah, gerhana ini terjadi bukan karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi Allah yang mengirimkannya untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu, bila kalian melihatnya, maka bersegeralah ingat kepada-Nya, berdoa dan mohon ampunan-Nya. (Shahih Muslim No.1518 )

Hadis riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu.:

Bahwa ia dikabarkan dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam., bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan tidak terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi keduanya termasuk tanda kebesaran Allah. Maka jika kalian melihat gerhana, kerjakanlah shalat. (Shahih Muslim No.1521)

Hadis riwayat Mughirah bin Syu`bah radhiyallahu ‘anhu., ia berkata:

Pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. pernah terjadi gerhana matahari pada hari kematian Ibrahim. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana disebabkan kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, apabila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan tunaikan shalat hingga matahari nampak kembali. (Shahih Muslim No.1522)

Hadis riwayat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu., ia berkata:

Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah, lalu beliau shalat (bersama orang banyak). Beliau berdiri lama yaitu kira-kira cukup untuk membaca surah al-Baqarah. Lalu, ruku dengan ruku yang lama, kemudian mengangkat kepala. Lalu, berdiri lagi agak lama, tetapi tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian ruku lagi agak lama, tetapi rukunya tidak selama yang pertama, lalu sujud. Kemudian beliau berdiri (untuk mengerjakan rakaat yang kedua). Berdirinya lama tetapi tidak selama berdiri yang pertama. Lalu, ruku dengan ruku yang lama. Tetapi, tidak selama ruku yang pertama. Kemudian mengangkat kepala lalu berdiri agak lama, tetapi tidak selama berdirinya yang pertama. Lalu ruku agak lama, tetapi tidak selama ruku yang pertama. Kemudian mengangkat kepala, lalu beliau sujud. Lalu selesailah shalat beliau, sedangkan matahari sudah tampak jelas. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak terjadi gerhana matahari atau bulan karena meninggalnya seseorang atau karena hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka ingatlah kepada Allah.’ Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami melihat engkau memperoleh sesuatu di tempat engkau, kemudian kami melihat engkau menahan (napas)?‘(Dalam riwayat Muslim, “Kami melihat engkau menahan napas.”) Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya saya melihat (dan dalam satu riwayat: diperlihatkan) surga, dan saya memperoleh seuntai. Seandainya saya mengambilnya, niscaya kamu memakan daripadanya selama dunia masih ada. Dan, saya melihat neraka, maka saya tidak pernah melihat pemandangan yang lebih ngeri seperti hari ini. Saya lihat sebagian besar penghuninya adalah wanita.‘ Mereka bertanya, ‘Karena apakah wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Karena kekafiran mereka.’ Ditanyakan, ‘Mereka kafir kepada Allah?’ Beliau bersabda, ‘Mereka kufur terhadap suami dan kufur terhadap kebaikan. Seandainya kamu berbuat kebaikan kepada salah seorang dari mereka selama setahun penuh, kemudian ia melihat sesuatu (yang tidak menyenangkan) sedikit saja darimu, ia mengatakan, ‘Saya tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.’. (Shahih Bukhari)

Dalam Fathul Bari’ II: 527 al-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan, “Jumhur ulama berpendapat bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah.”

Surga dan Neraka Diperlihatkan Kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam Saat Melaksanakan Shalat Gerhana

Hadis riwayat Asma radhiyallahu ‘anha.:

Dari Fatimah, bahwa Asma berkata: Pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. pernah terjadi gerhana matahari. Aku datang menemui Aisyah yang ketika itu sedang shalat dan aku bertanya: Ada apa dengan orang-orang, kenapa mereka melakukan shalat? Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke arah langit. Aku bertanya lagi: Tanda kebesaran Allah? Aisyah menjawab: Ya. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. berdiri lama sekali (dalam shalat) hingga kepalaku pusing, lalu aku ambil qirbah (tempat air dari kulit), meletakkannya di sampingku. Aku siram kepala atau wajahku dengan air. Ketika selesai shalat matahari telah muncul kembali. Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. berkhutbah kepada kaum muslimin. Beliau memuji dan menyanjung Allah. Lalu bersabda: Selanjutnya. Apa yang belum pernah aku lihat, telah dapat kulihat di tempatku ini, termasuk surga dan neraka. Telah diwahyukan kepadaku, bahwa kalian akan menerima ujian dalam kubur yang hampir menyerupai fitnah atau seperti fitnah Masih Dajjal, aku tidak tahu apa ia sebenarnya. Asma melanjutkan: Seseorang di antara kalian didatangkan dan ditanya: Apa yang engkau ketahui tentang orang ini (maksudnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.)? Orang yang beriman akan menjawab: Dia adalah Muhammad utusan Allah, yang datang kepada kami dengan membawa bukti dan petunjuk. Lalu kami menyambut dan mematuhinya. (Itu dikatakannya sebanyak tiga kali). kemudian kepadanya dikatakan: Benar! Kami memang tahu bahwa engkau beriman kepadanya. Tidurlah baik-baik! Sedangkan orang munafik atau ragu-ragu akan menjawab: Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu kuikuti saja berkata seperti itu. (Shahih Muslim No.1509)

Memerdekakan Budak

Hadits riwayat Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata,

Sesungguhnya Nabishalallahu alaihi wassalam telah menyuruh para sahabat memerdekakan budak pada waktu terjadi gerhana matahari” (Shahih Mukhtasar Bukhary no:118 dan Fathul Bari’ II: 543 no:1045)

One Response

  1. Silakan dikoreksi jika ada kesalahan….
    Sekaligus menambahkan yang lain jika ada yang kurang…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: