Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama

Tahukah anda tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekulerisme Agama. Isu-isu ini sudah lama timbul dan saya kira menjadi pengaruh terutama terhadap pemikiran kaum muslimin di Indonesia.

Namun sejauh mana kita, terutama sebagai orang Islam mengetahui tentang hal ini. Coba kita tanya orang-orang islam atau non Islam di sekitar kita tentang tiga hal di atas, Pluralisme, Liberalisme dan Sekulerisme Agama. Mari kita simak pendapat MUI tentang ketiga isu tersebut.

Saya coba “copy and paste” dari sumber aslinya. Berikut isi fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama.

MUSYAWARAH NASIONAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA TAHUN 2005

KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor:  7/MUNAS VII/MUI/11/2005
Tentang
PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M.:

MENIMBANG:

a.  bahwa  pada  akhir-akhir  ini  berkembang  paham  pluralisme, liberalisme  dan  sekularisme  agama  serta  paham-paham  sejenis
lainnya di kalangan masyarakat;
b. bahwa  berkembangnya  paham  pluralisme,  liberalisme  dan sekularisme  agama  di  kalangan  masyarakat  telah  menimbulkan
keresahan  sehingga  sebagian  masyarakat  meminta  MUI  untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut;
c.  bahwa  oleh  karena  itu,  MUI  memandang  perlu  menetapkan  fatwa tentang  paham  pluralisme,  liberalisme,  dan  sekularisme  agama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.

MENGINGAT:

1. FIRMAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

“Barangsiapa mencari agama  selain agama  Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima  (agama  itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran [3]: 85)

“Sesungguhnya  agama  (yang  diridhai)  di  sisi  Allah  hanyalah Islam…”. (QS. Ali Imran [3]: 19)

“Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. al-Kafirun [109] : 6).

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan  yang  mu’min,  apabila  Allah  dan  Rasul-Nya  telah
menetapkan  suatu  ketetapan,  akan  ada  bagi  mereka  pilihan  (yang lain)  tentang  urusan  mereka.  Dan  barangsiapa mendurhakai  Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia  telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. al-Ahzab [33]: 36).

“Allah  tiada  melarang  kamu  untuk  berbuat  baik  dan  berlaku  adil terhadap  orang-orang  yang  tiada memerangimu  karena  agama dan tidak  (pula)  mengusir  kamu  dari  negerimu.  Sesungguhnya  Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang  kamu  menjadikan  sebagai  kawanmu  orang-orang  yang memerangi  kamu  karena  agama  dan mengusir  kamu  dari  negerimu dan  membantu  (orang  lain)  untuk  mengusirmu.  Dan  barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. al-Mumtahinah [60]: 8-9).

“Dan  carilah  pada  apa  yang  telah  dianugerahkan Allah  kepadamu (kebahagiaan)  negeri  akhirat,  dan  janganlah  kamu  melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang  lain)  sebagaimana  Allah  telah  berbuat  baik  kepadamu,  dan janganlah  kamu  berbuat  kerusakan  di  (muka)  bumi.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. al-Qashash [28]: 77).

“Dan  jika  kamu  menuruti  kebanyakan  orang-orang  yang  di  muka bumi  ini,  niscaya  mereka  akan  menyesatkanmu  dari  jalan  Allah. Mereka  tidak  lain  hanyalah  mengikuti  persangkaan  belaka,  dan mereka  tidak  lain  hanyalah  berdusta  (terhadap  Allah)”.  (QS.  al-An’am [6]: 116).

“Andaikata  kebenaran  itu  menuruti  hawa  nafsu  mereka,  pasti binasalah  langit  dan  bumi  ini,  dan  semua  yang  ada  di  dalamnya. Sebenarnya  Kami  telah  mendatangkan  kepada mereka  kebanggaan mereka  tetapi  mereka  berpaling  dari  kebanggaan  itu”.  (QS.  al-Mu’minun [23]: 71).

2. HADITS RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM

a.  Imam  Muslim  (w.  262  H)  dalam  kitabnya  Shahih  Muslim,
meriwayatkan sabda Rasulullah s.a.w.:

“Demi Dzat Yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku
dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka”.
(H.R. Muslim).

b.  Nabi  mengirimkan  surat-surat  dakwah  kepada  orang-orang  non-muslim,  antara  lain  Kaisar  Heraklius,  Raja  Romawi  yang
beragama Nasrani, al-Najasyi raja Abesenia yang bergama Nasrani dan Kisra Persia yang beragama Majusi, di mana Nabi mengajak
mereka untuk masuk  Islam.  (riwayat  Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al-Kubra dan Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari).

c.  Nabi  saw  melakukan  pergaulan  sosial  secara  baik  dengan komunitas-komunitas non-muslim  seperti komunitas Yahudi yang
tinggal  di  Khaibar  dan  Nasrani  yang  tinggal  di  Najran;  bahkan salah  seorang  mertua  Nabi  yang  bernama  Huyay  bin  Ahthab
adalah  tokoh  Yahudi  Bani  Quradzah  (Sayyid  Bani  Quraizah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

MEMPERHATIKAN:  Pendapat  Sidang  Komisi  C  Bidang  Fatwa  pada  Munas  VII  MUI 2005.  Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN  :  FATWA  TENTANG  PLURALISME,  LIBERALISME,  DAN
SEKULAR-ISME AGAMA

Pertama  :  Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan

1. Pluralisme  agama  adalah  suatu  paham  yang  meng-ajarkan  bahwa semua  agama  adalah  sama  dan  karenanya  kebenaran  setiap  agama adalah  relatif;  oleh  sebab  itu,  setiap  pemeluk  agama  tidak  boleh mengklaim  bahwa  hanya  agamanya  saja  yang  benar  sedangkan agama  yang  lain  salah.  Pluralisme  agama  juga mengajarkan  bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

2. Pluralitas  agama  adalah  sebuah  kenyataan  bahwa  di  negara  atau daerah  tertentu  terdapat berbagai pemeluk  agama yang hidup  secara berdampingan.

3. Liberalisme  agama  adalah memahami  nash-nash  agama  (Al-Qur’an &  Sunnah)  dengan  menggunakan  akal  pikiran  yangg  bebas;  dan hanya  menerima  doktrin-doktrin  agama  yang  sesuai  dengan  akal pikiran semata.

4. Sekularisme  agama  adalah  memisahkan  urusan  dunia  dari  agama; agama  hanya  digunakan  untuk  mengatur  hubungan  pribadi  dengan Tuhan,    sedangkan  hubungan  sesama manusia  diatur  hanya  dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Kedua  :  Ketentuan Hukum

1. Pluralisme,  Sekularisme  dan  Liberalisme  agama  sebagaimana dimaksud  pada  bagian  pertama  adalah  paham  yang  bertentangan dengan ajaran agama Islam.

2. Umat  Islam  haram  mengikuti  paham  Pluralisme  Sekularisme  dan Liberalisme Agama.

3. Dalam  masalah  aqidah  dan  ibadah,  umat  Islam  wajib  bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampur-adukkan aqidah dan  ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.

4. Bagi masyarakat muslim  yang  tinggal  bersama  pemeluk  agama  lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah  dan  ibadah,  umat  Islam  bersikap  inklusif,  dalam  arti  tetap melakukan  pergaulan  sosial  dengan  pemeluk  agama  lain  sepanjang tidak saling merugikan.

Untuk lebih lengkapnya tentang file pdf fatwa ini, bisa didownload lewat link berikut…..

Fatwa MUI tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama….

Ardi N

One Response

  1. Sebenarnya, pluralisme, liberalisme, dan sekularisme memang telah memburamkan Islam sejak lama.
    Paham2 tersebut menghancurkan Islam tanpa disadari oleh umat Islam sendiri.
    Namun, masyarakat justru mengagung-agungkan pluralisme. Sungguh ironis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: