Ikatan Keimanan Yang Kuat Dalam Dakwah Yang Dibangun Di Atas Ukhuwah

Yang dimaksud dengan ukhuwah adalah perpaduan hati dan ruh dengan aqidah. Aqidah merupakan tali pengikat yang paling kuat dan tinggi. Ukhuwah adalah pasangan iman, sedangkan berpecah belah (tafarruq) adalah pasangan kekhufuran. Kekuatan paling utama berpangkal pada kekuatan persatuan (quwwatul wihdah). Persatuan takkan terwujud tanpa rasa cinta. Tingkat cinta paling rendah adalah kedamaian hati (salamatu shadr), dan yang paling tinggi adalah mendudukan orang lain lebih tinggi dari sendiri (itsar). Allah Subhanahu wa ta`ala berfirman :

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9)

Seorang mukmin memandang saudaranya lebih utama dari dirinya. Sebab jika ia tidak berbuat demikian maka saudaranya yang lain pun tidak memandangnya lebih utama dari dirinya. Bila mereka tidak memandang dirinya lebih utama, maka ia tidak akan memandang mereka lebih utama.

Sesungguhnya serigala hanya akan memangsa kambing yang memisahkan diri dari kelompoknya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa`i. Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, adz-Dzahabi dan an-Nawawi dalam al-Majmu’. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihu al-Jami`).

Seorang mukmin bagi mukmin lainnya ibarat bangunan yang saling menguatkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy`ari.).

Dan orang-orang mukminin dan mukminat masing-masing mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian lainnya. Memerintahkan apada yang ma`ruf dan melarang pada yang mungkar.” (QS. At-Taubah : 71)

Yang dapat menjadikan ukhuwah itu dapat lestari, yakni melalui sikap taat kepada Allah `Azza wa Jalla dan ittiba` kepada Rasul-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam. Tak ada yang dapat memelihara ukhuwah sebagaimana pemeliharaan sikap taat kepada Allah dan menjauhkan dari semua kemaksiatan kepada-Nya. Ukhuwah yang berdiri di atas taqwa akan terus berlaku baik di dunia hingga akherat.

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Dan tak ada yang dapat memelihara ukhuwah dari kehancuran sebagaimana keampuhan perisai iman dan amal shalih. Allah Subhanahu wa ta`ala berfirman,

Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat dzalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh dan amat sedikitlah mereka ini” (QS. Shad : 24)

Karena itulah, iblis la`natullah tidak menyukai mekarnya rasa cinta dan ukhuwah di antara para juru dakwah. Iblis selalu berupaya menyulut perselisihan antar mereka. Hendaknya selalu berkata yang paling baik dan perbedaan pendapat di antara mereka hendaknya tidak merusak rasa kasih dan cinta antar mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: