Takdir…

Iman kepada takdir termasuk rukun iman yang keenam, yang dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kepada malaikat jibril alaihis salam ketika beliau ditanya tentang iman. Beriman kepada takdir termasuk masalah yang penting. Orang-orang berselisih tentang takdir sejak zaman dahulu. Pada zaman Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, orang-orang sudah berdebat tentang takdir. Hingga hari ini kita temui orang-orang masih berselisih di dalamnya.

Iman kepada takdir adalah anda beriman bahwasanya Allah telah menentukan segala sesuatu, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata`ala:

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan :2)

Takdir yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu Wata`ala ini tunduk pada hikmah-Nya. Konsekuaensi dari hikmah tersebut seperti akhir yang baik dan akibat yang bermanfaat bagi hamba dalam kehidupan dan kematiannya. Iman kepada takdir ada empat tingkatan, yaitu:

  • Al-Ilmu (mengetahui). Yaitu, beriman dengan iman yang sempurna bahwasanya Allah Subhanahu Wa ta`ala mengetahui segala sesuatu, baik yang telah lalu, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Baik yang berkaitan dengan perbuatan Allah ataupun perbuatan hamba. Semuanya diketahui-Nya secara global ataupun terperinci dengan ilmu-Nya yang Dia bersifat dengannya secara azali dan abadi. Dalil tingkatan ini banyak sekali terdapat di dalam Al-Qur`an dan Sunnah, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta`ala,

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (QS. Ali-Imran :5)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipundalam kegelapanbumi dan tidak sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An`am :59)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf :16)

Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah :283)

Serta ayat-ayat lain yang menunjukkan tentang ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, baik secara global maupun terperinci.

Barangsiapa mengingkari tingkatan iman kepada takdir ini, maka ia telah kafir. Sebab ia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya serta ijma` (konsensus) kaum muslimin. Juga mencela kesempurnaan Allah. Karena lawan ilmu adalah bodoh atau lupa sedang keduanya merupakan aib. Allah sbhanahu wa ta`ala berfirman tentang Musa alahissalam ketika ditanya oleh Fir`aun,

Berkata Fir`aun,’Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’ Musa menjawab,’Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabb-ku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (QS. Thaha :51-52)

Allah subhanahu wa ta`ala tidak “akan salah”, yaitu Allah pasti mengetahui segala sesuatu yang akan datang dan tidak lupa tentang sesuatu yang telah lampau.

  • Beriman bahwasanya Allah subhanahu wa ta`ala menulis takdir setiap sesuatu hingga hari kiamat. Ketika Allah menciptakan Al-Qalam, maka Dia berfirman kepadanya, “Tulislah!” Al-Qalam berkata, “Rabbi, apa yang aku tulis?” Allah berfirman, “Tulislah apa yang ada dan yang terjadi saat itu dan yang akan terjadi hingga Hari Kiamat.” Maka Allah menulis di Lauhul Mahfuzh tentang takdir segala sesuatu. Tingkatan takdir ini telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta`ala dalam firman-Nya,

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Haj :70)

Tulisan ini terkadang terperinci. Janin yang ada dalam perut ibunya apabila telah lewat empat bulan diutus kepadanya malaikat dan dia diperintahkan, “Dengan empat hal;menulis rizkinya, ajalnya, amalnya dan sengsara atau bahagia.” Demikian sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Mas`ud radiyallahuanhu dari Rasulullah shalallahu alahissalam yang diriwayatkan Imam Muslim. Di malam Al-Qadar juga ditulis apa yang akan terjadi pada tahun tersebut, Allah berfirman,

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikamh, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus Rasul-Rasul.” (QS. Ad-Dukhan :3-5)

  • Mengimani bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini adalah atas kehendak Allah. Semua yang ada di alam semesta ini ada karena masyi`ah (kehendak Allah), baik yang dilakukan sendiri oleh Allah atau yang dilakukan oleh makhluk-Nya, Allah berfirman,

Dan Allah memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim :27)

Maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberikan petunjuk kepada kami semuanya.”(QS. Al-An`am :149)

Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu.” (QS. Hud :118)

Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (utuk menggantikan kamu).” (QS. Fathir :16)

Masih banyak ayat lain yang menunjukkan bahwa perbuatan-Nya terjadi atas kehendak-Nya. Begitu juga perbuatan seorang hamba terjadi atas kehendak-Nya pula, sebagaimana firman Allah,

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-Rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan. Akan tetapi mereka berselisih maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah :153)

Ini merupakan dalil jelas yang menerangkan bahwa perbuatan seorang hamba telah dikehendaki oleh Allah. Seandainya Allah berkehendak untuk tidak terjadi, niscaya tidak akan terjadi.

  • beriman bahwa Allah subhanahu wa ta`ala adalah yang menciptakan segala sesuatu. Allah adalah Pencipta. Selain Allah adalah makhluk. Pencipta segala sesuatu adalah Allah. Semua makhluk adalah makhluk Allah. Perbuatan dan perkataan yang keluar darinya adalah makhluk Allah juga. Karena perbuatan dan perkataan manusia adalah termasuk sifatnya. Ini sebagaimana firman Allah,

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As-Shaffat :96)

Iman kepada takdir tidak menafikan ikhtiar (usaha). Bahkan Ikhtiar merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh syariat dan dia terjadi dengan takdir. Karena sebab menghasilkan sesuatu yang disebabkannya (kausalitas). Itulah sebabnya ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab radiyallahu`anhu berangkat ke Syam dan di tengah perjalanan diberitahukan bahwa di Syam telah berjangkit penyakit tha`un, maka beliau bermusyawarah dengan para sahabat, apakah dia melanjutkan perjalannya atau kembali ke Madinah. Orang-orang berselisih dan keputusan terakhir mereka adalah kembali ke Madinah. Ketika hendak kembali beliau didatangi oleh Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah radiyallahu`anhu. Dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Bagaimana mungkin anda kembali ke Madinah? Apakah sebagai pelarian dari takdir Allah?” Umar berkata,”Ya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”(Muttafaq Alaih). Setelah itu datang Abdurrahman bin Auf radiyallahu`anhu yang sebelumnya tidak hadir karena suatu keperluan, membacakan suatu hadits Rasul tentang hal tersebut,

Apabila kalian mendengar dia (wabah tha`un) berjangkit di suatu tempat, maka kalian jangan mendatanginya.” (HR. Ahmad)

Sehingga beriman kepada takdir tidak menafikan usaha yang benar. Adapun angan-angan yang dianggap oleh pelakunya sebagai sebab (ikhtiar), padahal bukan demikian, maka ia dianggap tidak serius dan tidak perlu diperhatikan.

Demikian juga ketika kita menyikapi nikmat sebagai kejadian dengan takdir-Nya. Sikap syukur, tidak membanggakan diri terhadapnya karena semuanya itu tidak didapat dengan daya dan kekuatan kita. Keutamaan yang ada adalah pemberian dari-Nya. Lalu kita sadari, hanya Allah yang memiliki karunia,

Mereka telah merasamemberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah,’Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat :17)

Begitu pula ketika ditimpa musibah, menyerahkan diri kepada-Nya dan tidak menyesal dengan semua itu serta tidak merasa rugi,

Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, walaupun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah mencari yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan sekali-kali bersikap lemah. Jika kamu ditimpa suatu kegagalan janganlah mengatakan,’Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu.’ Tetapi katakanlah,’Ini telah ditakdirkan Allah dan apa yang Dia inginkan pasti terjadi.’ Karena ucapan ‘seandainya’ membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim).

untuk mereka yang menjalani takdirnya..hidup..susah..senang..dan ajalnya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: