Cinta (jilid 3)

Kesejatian Cinta

Ikhlas adalah kebutuhan bagi seorang pengemban cinta. Manakala mimpi tak berubah nyata, idealisme berseberangan dengan realita, dan cinta tak terungkap lewat sepatah pun kata, memaksa sang pecinta untuk meredam gejolak jiwa. Sehingga ledakan-ledakan energi cinta terpendam dalam. Tak tercurahkan. Dan pada akhirnya bercabang pada dua pilihan jalan, menyimpan cintanya untuk menyatakan di kemudian hari atau menghilangkan perasaan itu sama sekali. Keduanya membutuhkan keikhlasan, namun dibedakan oleh besarnya pengorbanan.

Jalan yang pertama masih mengijinkan sang pecinta untuk berharap. Ia tetap hidup diselimuti kehangatan mentari cinta. Sembari menunggu momen yang tepat, sang pecinta menyempurnakan potongan-potongan hidupnya. Menatanya dalam bingkai indah fragmen kehidupan. Menanti kedatangan potongan terakhir sebagai penyempurna yang paripurna.

Sedangkan jalan yang kedua menuntut pengorbanan yang lebih besar. Sang pecinta harus sungguh-sungguh merobohkan istana impiannya, memangkas pohon keegoisannya, serta mengubur hasrat hidup bersama dengan sang kekasih. Mungkin ia merasa tak bisa merengkuh kebahagiaan sejati. Tak mustahil juga ia kehilangan gairah untuk melanjutkan episode kehidupannya. Karena energi yang membuatnya bersemangat, dan sosok yang senantiasa diimpikan harus ia relakan kepergiannya.

Akan tetapi, ada pengorbanan yang lebih besar. Pengorbanan yang tidak semua orang mampu melakukan. Hanya segelintir, karena memang tidak banyak. Mereka bukan hanya mampu merelakan sang kekasih hati tak menjadi miliknya, bahkan mengambil energi yang lebih besar dari perpisahan itu. Umar bin Abdul ‘Aziz pernah memberikan teladan menghadapi lika-liku kehidupan ini. Suatu ketika ia mengalami kondisi fisik yang anjlok karena kegigihannya menjalankan amanah kekhalifahan. Di saat itu, Fatimah datang dengan membawa hadiah untuk menghibur suaminya. Dan betapa bergejolak perasaan sang Khalifah, saat istrinya menghadiahkan seorang gadis untuk dinikahinya. Bukan sembarang gadis, namun gadis yang di masa lalu ia cintai. Namun tak pernah diijinkan sang istri untuk dinikahi, beralasan cinta dan cemburu. Kini perasaan yang dahulu membakar jiwanya, hadir kembali. Memenuhi ruang-ruang dalam hatinya.

Jika saja sang Khalifah menikahinya, itu bukanlah suatu hal yang sulit. Toh sang istri sendiri yang menawarkan. Akan tetapi ia mengambil keputusan kontroversial. Ia nikahkan sang gadis dengan pemuda lain. Maka ketika sang gadis bertanya padanya, “Bukankah dulu kau sangat mencintaiku? Apakah telah hilang perasaan itu darimu ?” Dengan menahan keharuan sang Khalifah berkata, “Cinta itu masih ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!” Umar telah memilih cinta yang lain. Cinta yang lebih dari sekedar keinginan untuk memiliki. Cinta yang ingin melihat sang kekasih bahagia, dan tidak mengkhianati Sang Pemilik Cinta. Hingga pada akhirnya, mengikhlaskannya adalah buah kesejatian cinta.

 

Writer : Bilal Ahmadi

Editor : Ardi Noerpamoengkas

Published at Al-Uswah Buletin, Ardi`s Weblog.

2 Responses

  1. so sweet,,,,,

  2. Mari bertakbir seraya memuji nama-Nya.
    Allahu Akbar 3x
    Laa Ilaa Ha Illallahu Allahu Akbar

    Allahu Akbar Walillah Ilham. KUMANDANGKAN TAKBIR KEMENANGAN!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: