Sahabatmu (Tak Terabaikan)

Sahabatmu tak pernah mengabaikanmu. Ia akan selalu senang bersamamu. Ia bisa memahamimu meski perkataanmu terbata-bata dan samar tak bermakna. Ia akan menjadi bibirmu yang bisa kau percaya perkataannya. Ia bisa menjadi kaki yang menjadi penuntun yang menemanimu.

Sahabatmu tak pernah membiarkanmu. Ia akan mengulurkan tangannya ketika kau jatuh. Ia akan memberikan punggungnya yang hangat untuk membawamu pergi bersamanya. Meski berat badanmu menjadi peluh tak berkeluh baginya. Meski kaki lelah menyusuri panasnya batu terkena terik matahari. Ia akan meraih pundak dan menenangkan kegalauan hatimu.

Sahabatmu tak pernah membebanimu. Meski kau anggap janji-janjimu padanya sebagai angin yang sekedar berlalu, tetapi tetap berkesan baginya. Meskipun itu menjadi beban hidupnya, dan kau tak mengingatnya. Ia akan tetap menjaganya karena prinsip-prinsip hidupnya. Manusia sejati memegang teguh apa yang telah dikatakannya.

Sahabatmu tak pernah menolakmu. Ia akan menjadi andalanmu. Bahkan mungkin kau terlalu mengandalkannya. Bukan penolakan yang diharapkan darinya, namun pengharapan untuk bisa selalu bersamamu di saat genting hidupmu. Menemanimu dan mendukung semangatmu yang sudah mulai luntur.

Sahabatmu tak pernah melupakanmu. Tutur katamu akan menjadi kesan mendalam baginya. Meski kau mengabaikannya, meski kau kira sebagai lelucon biasa. Tiap momen bersamamu menjadi kenangan yang ia simpan dalam memorinya. Hingga menyimpan setiap pemberian yang ia berikan darimu demi menghargaimu. Ia akan tetap mengingatmu meski kini kau telah berubah dan merindukan dirimu yang dulu.

Sahabatmu tak pernah menjerumuskanmu. Ia terkadang menyebalkan dan kau tak senang padanya. Sikap dan perilakunya kadang tak sejalan denganmu. Tapi baginya, sahabat baik bukan selalu membenarkan semua perkataan dan sikapmu, namun selalu mendukung kebenaran di sisimu dan meluruskan kesesatan di jalan hidupmu.

Sahabatmu tak pernah memutuskanmu. Tak ada mantan sahabat. Ia akan tetap menjaga ikatannya denganmu bahkan ketika kau tak sejalan dengannya. Meski jarak dan waktu yang berbeda, meski takdir yang tak lagi membuat kalian bersama. Ikatan itu tetap ada dalam bingkai kenangan interaksi dekat masa lalu.

Sahabatmu akan selalu memaklumimu. Ia selalu memandangmu sebagai manusia seutuhnya. Meski terkadang khilafmu padanya telah menyesakkan dadanya. Meski terkadang lelucon picisanmu telah mengganggu pikirannya. Baginya, kau juga manusia yang tak luput salah khilaf. Dan ia akan selalu memaafkanmu sebelum kata minta maaf keluar dari mulutmu bahkan sebelum kau menyadarinya.

Sahabatmu tak pernah hilang dalam sejarah hidupmu. Begitu pula sejarah hidupnya. Meskipun ia telah menjadi orang besar terpandang. Ia akan tetap menjaga kenangannya bersamamu dalam memori yang berharga. Karena baginya, manusia berjiwa besar dan tumbuh dewasa karena kenangan berharga dalam hidupnya bersamamu.

Di bawah langit yang mendung

Surabaya, 30 Oktober 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: