Tipe Pemimpin

Sifat individu dan pembawaan seseorang tak lepas dari seseorang bahkan ketika mereka menjadi pemimpin. Itu mungkin bisa dipengaruhi oleh pendidikan orang tua, sekolah, lingkungan tempat ia biasa bergaul dan lain-lain. Sehingga sering kita temui pemimpin di atas jenjang karir kita memiliki sifat dan sikap berbeda dalam memimpin dan menyelesaikan persoalan. Ada baiknya kita mengetahui karakter pemimpin atau atasan kita. Kiranya itu dapat membantu kita dalam memahami dan mengerti pola pikir dan kerja yang diinginkan pemimpin kita.

Secara detail dan jelas, sebenarnya tiap pemimpin dapat dilihat bagaimana dia memimpin dengan serangkaian tes psikologi dan management assessment. Tapi sebagai bawahan, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sebaiknya memahami juga atasan atau pemimpin kita. Dari pergaulan luar kantor, kita juga dapat melihat karakter atasan kita dengan melihat dan mendengar bagaimana mereka berinteraksi, dan menyikapi isu-isu yang dikeluarkan sepanjang obralan-obrolan ringan. Tapi sering kita temui atasan berbeda sifat dan sikap ketika memasuki lingkungan kerja. Ini maklum dipahami karena dalam lingkungan kerja seseorang mendapat tekanan baik itu target-target pekerjaan ataupun persaingan kerja dengan sesama jenjang karir. Sehingga kadang pemimpin menuntut bawahan bekerja sesuai atau bahkan melebihi ekspektasinya selama ini kepada bawahannya. Jadi kita dapat melakukan management assessment pada atasan kita ketika berinteraksi di lingkungan kerja.

Sering kita menemui atasan kita bukanlah top management, yang benar-benar menentukan kebijakan institusi, tetapi manajer yang juga menangani masalah teknis di lapangan dan sering berinteraksi dengan bawahannya, atau bahkan bawahan di bawah bawahannya. Target-target yang diberikan oleh top management terkadang bukanlah target-target yang terjadwal, tetapi sebagai sesuatu yang memerlukan kecepatan dan ketepatan dan biasanya disesuaikan dengan keinginan konsumen sebagai bentuk keinginan general management untuk lebih customer oriented. Di saat-saat inilah, sebagai bawahan, seseorang dituntut untuk bisa bekerja lebih baik itu bekerja yang lebih cepat, berpikir lebih keras atau bekerja lembur. Selain itu, kita juga dapat melihat bagaimana pemimpin kita menyelesaikan masalah yang diberikan padanya, dan “mendistribusikannya” ke bawahannya.

Dalam proses menyelesaikan pekerjaannya, seseorang akan sering menemui pemimpin atau atasannya mengecek dan memeriksa pekerjaan kita. Dan tentu mereka tidak langsung melihat hasil pekerjaan kita secara visual, tetapi menanyakan kondisi terkini pekerjaan secara verbal. Dengan itu, kita dapat mengetahui adanya tren perbedaan seseorang dalam memimpin atau membawahi stafnya. Kita lihat pertanyaan awal yang diberikan pada bawahan atau anggota mereka. Dari sana, kita dapat mengetahui tipe pemimpin tersebut, setidaknya dua tipe.

Tipe pertama, Result Oriented Leader. Pemimpin tipe ini lebih sering menanyakan hasil-hasil kerja bawahannya. Akan sering ditemui pertanyaan, “Sudah selesai?” atau “Bagaimana? Sudah selesai semua?” Pemimpin tipe ini lebih mementingkan terselesaikannya pekerjaan bawahannya, bagaimanapun cara yang ditempuh. Umumnya, mereka perfeksionis karena perhatian mereka lebih banyak tertuju ke hasil sehingga lebih banyak waktu dan daya untuk mengkritisi hasil pekerjaan. Selain itu, mereka lebih banyak disibukkan oleh interaksi dan pekerjaan yang sifatnya interaksi verbal, seperti rapat dan berinteraksi dengan konsumen, atau sesekali membuka email yang isinya daftar pekerjaan dan targetnya. Beberapa pemimpin ini, terkadang tidak bisa menangani permasalahan teknis dan mempercayakan sepenuhnya kepada bawahannya. Sebagai bawahan, lebih baik meningkatkan kemampuan teknis dan memikirkan trik-trik pekerjaan yang cepat dan tepat. Dan bagi pemimpin dengan tipe ini, sebaiknya mereka juga mempelajari sedikit banyak tentang hal-hal teknis yang ditangani bawahannya. Resiko yang dihadapi dengan sistem kepemimpinan seperti ini adalah kemungkinan adanya proses yang tidak sempurna dan baik dalam pencapaian hasil, dan adanya ketidaknyamanan dari para bawahan yang tidak diperhatikan atau tidak dibantu dalam proses pekerjaannya.

Tipe kedua, Process Oriented Leader. Pemimpin tipe ini lebih sering menanyakan proses pekerjaan yang dilakukan bawahannya. Pertanyaan yang sering dikeluarkannya, “Bagaimana pekerjaannya? Ada masalah?” Pemimpin tipe ini masih memikirkan dan memperhatikan permasalahan yang dihadapi oleh bawahannya. Terkadang mereka sudah memberikan arahan kerja tertulis atau bahkan menyelesaikan sebagaian kecil pekerjaan sebelum diberikan ke bawahannya. Umumnya, mereka benar-benar memahami permasalahan teknis, dan lebih sering terjun ke lapangan. Mereka juga menjadi problem solver bagi permasalahan yang ditanggung divisinya. Sebagai bawahan, sebaiknya kita meningkatkan pengetahuan dan pengalaman teknis untuk membantu divisi dalam penyelesaian masalah. Dan bagi pemimpin tipe ini, sebaiknya juga meningkatkan kemampuan negosiasinya, kemampuan bahasa asing, dan kemampuan manajerial khusus. Kepemimpinan seperti ini, berpotensi untuk menjadikan karir stagnant. Manajemen institusi akan berpikir bahwa pemimpin ini lebih pantas dan cocok menduduki posisi sekarang karena kemampuan teknis, yang bersifat khusus, yang dimilikinya sulit tergantikan. Harus menunggu bawahan yang tepat dan memiliki kemampuan yang juga mumpuni di bidangnya untuk menggantikan pemimpin ini sebelum menaikkan jenjangnya ke karir yang lebih tinggi.

Paling tidak dengan dua tipe ini, kita memiliki pandangan bahwa setidaknya ada dua tipe kepemimpinan. Lebih dari itu sebenarnya dalam management assessment test akan didapati seorang pemimpin memiliki karakter dalam menghadapi atasan dan bawahannya. Umumnya result oriented leader adalah manajer di tingkat departemen atau memiliki dua sampai tiga tingkat bawahan. Sedang process oriented leader adalah manajer di tingkat divisi atau supervisor atau memiliki satu sampai dua tingkat bawahan. Sedang top management tidak memiliki atasan, namun memiliki posisi khusus untuk berinteraksi langsung dengan pihak birokrasi pemerintahan dan konsumen. Sebagai bawahan, seseorang harus bisa memberikan kemampuan sebaik-baiknya untuk institusi tempat ia bekerja. Karena setiap pemimpin yang baik awalnya adalah seorang bawahan yang baik juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: