Bekerja Adalah Ibadah (Bagian 1)

Quote ini adalah satu kalimat yang selalu tercetak di lembar slip gaji saya. Bekerja adalah ibadah. Mungkin dari kalimat tersebut, perusahaan dapat mengatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan para pekerjanya adalah ibadah bagi mereka dan tidak hanya membuahkan gaji yang diterima setiap bulan tetapi juga pahala karenanya. Lalu salah satu teman kerja saya bertanya, “emang apa hubungan antara bekerja dan ibadah?” Ketika itu waktu istirahat belum habis dan kami makan siang. Berpikir sejenak, akhirnya saya coba menjawab pertanyaan tersebut.

Gaji dan Tanggung Jawab Kaum Laki-Laki

Karena saat itu, kami yang sedang berkumpul semuanya laki-laki dan sebagian besar sudah berkeluarga, maka saya langsung teringat akan tanggung jawab kaum laki-laki dalam menafkahkan keluarganya.

“Ya, adalah! Sampeyan kan sudah berkeluarga. Maka tanggung jawab sampeyan sebagai suami untuk bisa menafkahkan keluarga dengan bekerja.”

“Dalam Islam, pemenuhan tanggung jawab sebagai suami dengan membanting tulang bekerja adalah sebuah ibadah yang berbuah pahala di sisi Allah.”

Sambil mengangguk-angguk, teman saya yang lain berkata, “bener-bener!”

Gaji dan Membelanjakan Dalam Kebaikan

Itu kan buat laki-laki, kalau wanita bagaimana. Saya kemudian menambah lagi.

“Beda lagi kalau wanita. Mereka tidak punya kewajiban untuk bekerja mencari nafkah, tapi gaji yang didapat bisa dipakai untuk belanja kebutuhan rumah tangga dan sedekah. Jadi itu pun ibadah yang berbuah pahala.”

Bahkan sebenarnya ketika semua aktivitas kita diniatkan untuk ibadah dan berorientasi kebaikan dan memberi manfaat itu juga akan berbuah pahala. Jadi tidak melulu ibadah dhohir atau nyata yang tampak saja. Tapi tentu aktivitas tersebut tidak boleh mengganggu ibadah-ibadah wajib kita.

Pilihan Bekerja atau Beribadah

Selain itu, teman yang lain bertanya hal yang lain tetapi tidak jauh-jauh dari masalah pekerjaan.

“Bagaimana kalau waktu sholat jumat sudah tiba tapi pekerjaan belum selesai dan sudah dekat deadline?”

Teman yang lain lagi berkata, “Ya, itu pilihanmu yang nanggung dosanya kamu sendiri kalau ninggal sholat jumat.”

Dalam pikiran saya masih belum menemukan solusi, tapi saya coba menjawab.

“Kalau dari kita, harus dimanage waktunya agar pekerjaan kita dapat selesai sesuai jadwal dengan memperhatikan prioritas pekerjaan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu.”

“Tapi kalau pekerjaan itu begitu banyak.”

“Kalau pekerjaan begitu banyak dan keadaanya sampai membuat absen jumatan, berarti atasanmu yang bermasalah”

“Oh, ya.”

“Iya, sebagai atasan, dia harus tahu kapasitas dari tiap bawahannya. Kalau kerjaan banyak, ya yang mengerjakan paralel dikerjakan beberapa orang. Selain itu, yang mengetahui dan mengarahkan beban kerja bawahan kan atasan. Kalau atasan benar-benar tidak mengijinkan sholat jumat berarti atasanmu tidak menghormati orang yang akan menjalankan ibadah agamanya. Begitu. Tapi ya, kembali ke sampeyan seh mau nerusin kerjaan atau jumatan.”

Tidak seperti dalam perkuliahan atau sekolah, dunia kerja memiliki lika-liku kehidupan sendiri. Salah satu problematikanya adalah bagaimana kita dapat melaksanakan ibadah harian tetapi aktivitas tidak terganggu. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: