Tolok Ukur Produktivitas

Salah satu cara untuk memberi arahan terhadap pekerjaan dan aktivitas keseharian kita adalah dengan memberi tolok ukur produktivitas. Secara harfiah, produktivitas adalah ukuran kualitas dan kuantitas dari keluaran terhadap input yang dibutuhkan untuk menghasilkan keluaran tersebut. Sehingga sangat penting untuk memberi tolok ukur terhadap produktivitas kita untuk mengetahui kapasitas dan capaian yang sudah diperoleh.

Produktivitas Kerja

Dalam pekerjaan, input bisa meliputi biaya, atau waktu kerja. Sedang output bisa terdiri dari hasil penjualan, pendapatan, atau pemasaran. Produktivitas digunakan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Sedang untuk pekerja alias buruh, seperti saya, input adalah waktu yang digunakan atau tercurahkan dalam pekerjaan dan output adalah gaji bersih atau take home pay. Saya pribadi selalu mencatat jam mulai dan pulang kerja, serta take home pay yang saya dapat tiap bulan. Di akhir bulan, gaji bersih dibagi dengan waktu kerja dalam satuan jam, hasilnya diketahui berapa gaji kita per jam dari bulan ke bulan.

Produktivitas Di Luar Pekerjaan

Banyak aktivitas di luar pekerjaan seperti interaksi sosial, membaca, dan menulis. Membaca itu termasuk membaca e-book, hardcopy, buku teknik, buku keislaman, atau tilawah/hafalan Al-Quran. Menulis termasuk di dalamnya menulis buku harian, posting blog, review buku, dan portofolio pribadi. Interaksi sosial seperti silaturahim, sholat jamaah, sedekah, dan lain-lain. Dengan terbatasnya waktu yang tersisa dari pekerjaan kita, semakin banyak aktivitas yang dilakukan semakin produktif keseharian kita.

Konversi Ke Ukuran Kuantitatif

Secara pribadi dan mungkin kebanyakan orang, mengukur keberhasilan berdasarkan ukuran kualitatif sangat sulit ditakar, dan tidak dapat dikomparasi. Sedang produktivitas sendiri adalah untuk meningkatkan kapasitas diri agar lebih baik dari waktu ke waktu. Agar dapat dibandingkan, nilai produktivitas baiknya diukur secara kuantitatif. Dengan begitu, kita dapat membandingkan produktivitas kita masa kini dengan masa lalu. Contoh analogi sederhana adalah mengukur seberapa sering kita meninggalkan sholat berjamaah di masjid, kemudian menggunakannya sebagai ukuran keimanan yang sifatnya kualitatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: