Pekerjaan Ideal Seorang Idealis

Setiap kita mempunyai visi dan mimpi tentang pekerjaan yang ideal. Bahkan mungkin bagi kita yang sudah kerja sekalipun, kita masih menyimpan keinginan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Tetapi tetap saja ideal bagi satu orang berbeda dengan orang lain. Namun ada seorang Idealis mengungkapkan pendapatnya tentang pekerjaan yang ideal menurutnya. Baginya, bekerja adalah sebuah pilihan hidup yang harus dipilih dengan memperhatikan mimpi dan cita-citanya. Dia mempunyai tiga tipe pekerjaan yang dianggap ideal, dan pekerjaan steady-nya akan dia ambil satu atau beberapa di antara ketiga pilihannya tersebut.

Continue reading

Advertisements

Tiga Orang Dalam Gua

Hikmah amal shalih dan ikhlas.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, beliau berkata,”Aku mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,

“Ada tiga orang dari umat sebelum kalian yang sedang bepergian sehingga mereka harus bermalam di sebuah goa, mereka masuk ke dalamnya. Lalu sebuah batu besar menggelinding dari gunung dan menutup pintu goa. Mereka berkata, ‘Yang bisa menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah doa kalian kepada Allah (sambil bertawassul) dengan amal shalih kalian’

Continue reading

Ashabul Ukhdud

Shuhaib radiyalllahu anhu menerangkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bercerita.

Pada jaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata kepada sang Raja, “Sesungguhnya aku sekarang sudah tua renta. Karenanya, aku minta kepada Tuan untuk mengirim seorang pemuda, nanti dia kuajari ilmu sihir.” Raja lalu mengirim seorang pemuda agar belajar ilmu sihir.

Continue reading

Pemuda dan Buah Apel

Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkai pohonnya. Pemuda itu memungut apel itu dan memakannya dengan tenang saja.

Tsabit nama pemuda itu. Baru sebagian apel itu digigit dan ditelannya, ia pun tersentak. Ia sadar, apel itu bukan miliknya. Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya.

Pemuda itu menahan dari memakan sisa apel dan segera pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, ia berkata,”Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”

“Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”

“Di mana pemiliknya?”

“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.

Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta maafnya karena ia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.

Continue reading

Kisah Seguci Emas

Terjadi sebelum Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dilahirkan, kisah tentang amanah, kezuhudan dan kejujuran yang sangat sulit ditemui di zaman sekarang.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahuanhu, dia berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya,”Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Si pemilik tanah berkata kepadanya,”Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”

Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu,”Apakah kamu berdua mempunyai anak?”

Salah satu dari mereka berkata,”Saya punya seorang anak laki-laki.”

Yang lain berkata,”Saya punya seorang anak perempuan.”

Kata sang hakim,”Nikahlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”

Sungguh kisah yang indah, hubungan ukhuwah di atas kebendaan.

Cinta (jilid 3)

Kesejatian Cinta

Ikhlas adalah kebutuhan bagi seorang pengemban cinta. Manakala mimpi tak berubah nyata, idealisme berseberangan dengan realita, dan cinta tak terungkap lewat sepatah pun kata, memaksa sang pecinta untuk meredam gejolak jiwa. Sehingga ledakan-ledakan energi cinta terpendam dalam. Tak tercurahkan. Dan pada akhirnya bercabang pada dua pilihan jalan, menyimpan cintanya untuk menyatakan di kemudian hari atau menghilangkan perasaan itu sama sekali. Keduanya membutuhkan keikhlasan, namun dibedakan oleh besarnya pengorbanan.

Jalan yang pertama masih mengijinkan sang pecinta untuk berharap. Ia tetap hidup diselimuti kehangatan mentari cinta. Sembari menunggu momen yang tepat, sang pecinta menyempurnakan potongan-potongan hidupnya. Menatanya dalam bingkai indah fragmen kehidupan. Menanti kedatangan potongan terakhir sebagai penyempurna yang paripurna.

Sedangkan jalan yang kedua menuntut pengorbanan yang lebih besar. Sang pecinta harus sungguh-sungguh merobohkan istana impiannya, memangkas pohon keegoisannya, serta mengubur hasrat hidup bersama dengan sang kekasih. Mungkin ia merasa tak bisa merengkuh kebahagiaan sejati. Tak mustahil juga ia kehilangan gairah untuk melanjutkan episode kehidupannya. Karena energi yang membuatnya bersemangat, dan sosok yang senantiasa diimpikan harus ia relakan kepergiannya.

Continue reading

Umar dan Penghuni Rumah Tua

Inilah kisah dari satu fragmen kehidupan seorang khalifah, Umar bin Khaththab. Mungkin banyak di antara kita yang sudah mengetahuinya. Namun alangkah baiknya, jika kita mengingatnya kembali sebagai rujukan, tentang betapa beratnya memikul amanah sebagai seorang pemimpin.

Continue reading

Takluk oleh Keluhuran Akhlak

Suatu ketika seorang lelaki bernama Tsamamah bin Itsal dari kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah Al Munawarah hendak membunuh Rasulullah. Dengan tekad bulat dan semangat kuat ia pergi ke majelis Rasulullah.

Tapi ternyata, niat jahat tersebut sudah tercium oleh Umar bin Khattab, maka ia pergi menghampirinya dan dan langsung mengusut dengan pertanyaan menukik. “apa tujuan datang ke Madinah, bukankah engkau seorang musyrik?”

Continue reading

Berbagi Roti…

Tak jauh dari madinah, 2 orang Baduwi tengah duduk santai. Menjelang maghrib mereka didatangi seorang musafir kehabisan bekal dan mengharapkan pertolongan mereka. Keduanya tak keberatan, mereka mengluarkan sisa bekalnya masing-masing. Yang satu sisa 5 potong roti, yang lainnya 3 potong., jadi jumlahnya 8 potong. Agar adil setiap roti di bagi 3 sehingga jumlah potongan adalah 24 buah. Tiap orang mendapat 8 potong roti. Mereka berbincang hingga larut dan akhirnya tertidur. Keesokan harinya, betapa kagetnya dua orang baduwi itu, tamu yang mendatangi mereka kemarin meninggalkan 8 keping uang logam sebagai tanda terima kasih.

Continue reading

Kuniyah Yang Aneh

Namanya pada masa jahiliyah adalah Abdu Syams, sebagaimana ditetapkan Imam Bukhari, At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Adapun setelah masuk Islam, namanya telah diubah oleh Rasul saw. Hal ini karena tidak boleh memberi nama seseorang dengan nama “hamba fulan” atau Abdul Fulan. Yang boleh hanya hamba Allah semata, sehingga beliau diberi nama Abdullah atau Abdurrahman.

Continue reading